Postingan

Dream High (2011) : Belajar Memperjuangkan Impian

Gambar
Walau sudah jelang 10 tahun berlalu, rupanya saya senang sekali ketika menemukan drakor Dream High yang sempat hits di waktu saya masih kuliah, kini bisa saya saksikan kembali, secara legal pula. Gengs, apa dulu kamu juga penonton setia akting dari Bae Suzy, Taecyeon 2PM, dan Kim Soo Hyun di drama musikal ini? Demi menyampaikan kebahagiaan saya yang bisa rewatch drama korea Dream High, maka spesial saya hadirkan curhatan saya tentang drama korea yang berlatar di Kirin Art School ini, untuk kamu. Tentunya dengan sudut pandang saya yang sudah tumbuh mendewasa, di masa sekarang.

It’s a Summer Film! (2021) : Pesan Manis untuk Penikmat Film Seperti Kita

Gambar
Sepertinya blog Ambil Remot sejauh ini lebih banyak membahas film Jepang ya. Film jepang It’s a Summer Film! menjadi film terakhir yang bisa saya saksikan secara utuh sepanjang mengikuti Japan Film Festival 2022. Waktu saya yang terbatas, rupanya memaksa saya untuk memilih dengan cermat, tayangan mana saja yang bisa saya saksikan untuk dibagikan di blog ini. Kali ini, genre film slice of life yang diperankan oleh Marika Ito, mantan member dari Nogizaka46 generasi pertama yang juga biasa dikenal dengan sebutan Bebitan ini, saya pilih karena mengangkat sisi pembuatan film secara indie yang dilakukan oleh siswa sekolah menengah di Jepang sana.

Her Love Boils Bathwater (2016) : Memori yang Akan Ditinggalkan Seorang Ibu untuk Keluarganya

Gambar
Gengs, kamu pernah membaca buku biografi Athirah, ibunda dari Bapak Jusuf Kalla yang ditulis oleh Alberthiene Endah, belum? Di sana tersirat pesan, tentang sosok ibu dalam sebuah rumah. Ibu adalah napas, denyut jantung, nyawa dari sebuah keluarga. Begitulah pesan tersirat yang juga terasa sekali di hati saya, sepanjang menonton film jepang Her Love Boils Bathwater. Bagi sebagian orang, kenyataan yang memilukan, seringnya menciptakan tekanan. Membunuh pelan-pelan. Terutama untuk kaum perempuan, dimana beban keluarga, seumur hidup tersampir di pundaknya. Film ini, menjadi film yang paling membekas di hati sepanjang saya menyaksikan beberapa tayangan yang dimunculkan dalam Japan Film Festival 2022 pada bulan Februari lalu. Ya … memang hanya sedikt saja film yang sempat saya saksikan sih.

ReLIFE (2017) : Jika Masa Muda Bisa Diulang Kembali

Gambar
Gengs, ada nggak sih yang kamu sesali di masa lalumu? Kalau iya, mungkin kamu akan iri dengan apa yang dialami tokoh Arata Kaizaki dalam film jepang ReLIFE. Hmm … pertanyaan begini tuh, memang paling gampang ya ditanyainnya. Ya … mungkin, karena setiap orang selalu punya masa lalu yang kemudian disesalinya di masa depan. Masa lalu memang memberi pengaruh pada kehidupan seseorang yang selanjutnya dijalani ya. Saya jadi teringat pada film Dua Garis Biru , tentang dua remaja SMA yang salah jalan, sampai memberi pengaruh panjang di masa depan mereka. Eh, tapi nggak ditampilkan secara tersurat sih di filmnya. Nah, kalau di fllm jepang keluaran tahun 2017 ini, memang ceritanya diadaptasi dari manga berjudul sama yang terbit pada 2013, kemudian dihadirkan dalam bentuk anime pada 2016. Tentu, judul yang dipakai pun, sama, ReLIFE. Kalau sudah dihadirkan ke dalam tiga media seni begini, maknanya, plot kisah yang disajikan sebagai ide utama, pasti bagus.

Ito (2021) : Nggak Ada Salahnya Menjadi Dirimu yang Unik dan Berbeda

Gambar
Pernahkah kamu merasa, kalau dirimu terlalu berbeda dengan orang lain di sekitarmu, sampai membuatmu menarik diri dari lingkunganmu? Mungkin inilah yang dirasakan oleh Ito Soma (Ren Komai), tokoh utama dalam film Jepang Ito yang rilis pada 2021 dan disutradarai juga ditulis langsung naskahnya oleh Satoko Yokohama. Salah satu film yang sempat saya saksikan secara daring dalam ajang Japanese Film Festival Online 2022.   Tentang Film Jepang Ito Sejujurnya, saya punya ketertarikan tersendiri untuk menyaksikan film yang menghadirkan Ren Komai sebagai Ito Soma, tokoh utama yang menjadi pusat dari segala lika-liku cerita kehidupan perempuan berusia 16 tahun nan sangat pemalu, akibat aksen dialek Tsugaru --   salah satu dalek yang berkembang di Prefektur Aomori – yang dimilikinya, setiap kali berbicara. Bagaimana sih kehidupan remaja di Jepang sana yang nggak terlalu berdekatan dengan gemerlap Tokyo, seperti yang biasanya saya saksikan dalam beberapa channel Youtube, semisal channel

Kenapa Kita Perlu Menonton Di Situs Legal?

Gambar
Hai, Gengs. Ada banyak alasan yang diungkapkan oleh sesiapa saja yang menggilai menonton, terutama di masa sebelum pandemi, ketika berbagai tontonan legal kebanyakan ditayangkan di bioskop. Dana. Bisa jadi salah satunya.

Film Dua Garis Biru (2019) : Menjadi Remaja dan Punya Anak Remaja Itu … Nggak Mudah

Gambar
Menemukan kemunculan film Dua Garis Biru di aplikasi Viu sungguh membuat saya senang bukan kepalang. Sudah cukup lama memang saya mengincar kesempatan untuk bisa menyaksikan salah satu karya dari Gina S. Noer ini. Sayangnya, saat film yang dibintangi juga oleh Cut Mini ini sedang naik tayang, rupanya saya nggak punya kesempatan untuk menyambangi bioskop, dulu. Walau banyak diselingi oleh iklan, sebab saya memang belum membeli paket berlangganan premium ketika menyempatkan diri untuk menyaksikan akting dari Adhisty Zara dan Angga Yunanda, film bertema kehidupan remaja perkotaan ini, sukses menerbitkan air mata haru saya. Bukan tersebab oleh masalah yang dialami kedua tokoh utamanya, melainkan berempati pada kenyataan hidup yang mendadak menjejak dalam dunia kedua orang ibu dari sepasang sejoli Dara dan Bima.